HWI

Anda ingin memiliki berat badan ideal? Dapatkan produk diet sehat dan aman hanya di WA 085729276993 PIN BB 58942340

Resensimu

Minggu, 12 Mei 2019

The Leader Who Had No Title

Anda tentu sudah mengenal siapa Robin Sharma. Dia adalah seorang konsultan kepemimpinan di berbagai perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500, yaitu Microsoft, GE, Nike, FedEx, dan IBM. Buku The Leader Who Had No Title ini adalah inti sari dari 15 tahun pengalamannya sebagai konsultan ternama. Selain itu, Robin juga sukses mengelola organisasi berskala internasional seperti Yale University, American Red Cross, dan Young Presidents Organization.

Dalam buku ini, Robin Sharma berusaha mendobrak teori kepemimpinan yang selama ini lazim diterapkan. Selama ini hampir semua orang berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin itu butuh jabatan khusus. Baik dalam bidang bisnis, pendidikan, militer, dan yang lainnya. Namun, Robin justru mengatakan, siapa pun di dunia ini bisa jadi pemimpin. Memimpin bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan bagi orang yang tak punya jabatan penting. Dalam bukunya, Sharma melibatkan dua orang tokoh sentral dalam membahas  konsep kepemimpiannya. Dia adalah Blake Davis (29) dan Tommy Flinn (77). Blake Davis adalah mantan tentara yang pernah dikirim ke Irak. Pengalaman buruknya selama menjadi tentara membuatnya trauma dan enggan menjalani hidup sebagai tentara setelah keluar dari tugas militer. Sehingga, ia kembali menjadi seorang sipil dan bekerja di sebuah toko buku. 
Di tengah kekalutannya, Blake bertemu seorang bernama Tommy Flinn yang mengaku sebagai teman mendiang ayahnya. Tommy juga bekerja di toko tempatnya bekerja. Dia berusaha menularkan semangat agar Blake bisa menjalani hidup dengan baik, terutama dalam rutinitasnya sebagai karyawan toko buku.
Tommy mengaku, kalau sejak dulu dia hanya karyawan biasa. Di usianya yang sudah senja-sudah lewat waktu pensiun-dia tak tertarik dengan jabatan apa pun di perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, banyak tawaran dan kesempatan agar Tommy menjadi manajer yang bisa menikmati segala fasilitas kantor, termasuk mobil perusahaan dan seluruh tanggungan hidupnya. Tapi, semuanya ditolak.
Blake penasaran, apa yang membuat Tommy tak tertarik menjadi seorang pemimpin dalam perusahaan. Dengan sabar Tommy menjelaskan bahwa, segala elemen dalam perusahaan itu bisa jadi pemimpin, tanpa harus punya jabatan. Untuk berhasil, semua orang harus melihat diri mereka sebagai bagian tim kepemimpinan (hlm. 20).
Apa yang kira-kira terjadi pada suatu simfoni jika satu saja pemainnya sumbang dan kurang andal berkesenian? Tentu, musiknya akan buruk dan semuanya berantakan. Tak ada peran yang sepele. Hal ini juga berlaku dalam bisnis. Tommy menjelaskan, satu-satunya cara agar semua organisasi-dan manusia, dalam hal ini-bertahan dalam masa perubahan revolusioner ini adalah dengan menggunakan model kepemimpinan baru yang revolusioner. Model ini menciptakan lingkungan dan budaya yang menuntut semua orang menjadi pemimpin.
Lebih lanjut, Tommy menambahkan bahwa semua orang itu perlu menghasilkan inovasi. Semua orang perlu menginspirasi teman satu tim, merengkuh perubahan, dan perlu bersikap positif. Semua orang perlu mengerahkan diri untuk unjuk yang terbaik. Begitu mereka lakukan itu, organisasi tak hanya beradaptasi dengan indah dalam kondisi yang berubah-ubah, tapi juga menjadi yang terdepan di bidangnya (hlm. 21).
Lewat buku 264 halaman ini, Robin Sharma menyodorkan konsep kepemimpinan yang tidak biasa. Dia ingin menegaskan bahwa, menjadi pemimpin itu ada seninya, ada rahasianya, dan semua orang memilikinya. Semua orang punya kekuatan alami untuk memimpin dan tidak ada kaitannya dengan jabatan tinggi, berapa umur mereka, atau di mana mereka tinggal. Siapa pun dan di mana pun di dunia ini, dapat melangkah ke arena dan mengemban tanggung jawab untuk memicu perubahan, mengungkap kehebatan, dan unjuk kepemimpinan.
Robin menegaskan, jika mau mengoptimalkan diri, semua orang punya sumber potensi kepemimpinan. Kepemimpinan tak ada hubungannya dengan apa yang seseorang dapat atau di mana dia duduk. Kepemimpinan lebih menyangkut secerdas apa seseorang bekerja dan sepiawai apa dia berperilaku. Tujuannya adalah berkarya hebat-di tempat dia berada.
Luar biasa.

Berikut data  pustaka selengkapnya :
Penulis : Robin Sharma
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2019
Tebal : xii + 264 Halaman

ISBN : 9786022915065

Jumat, 19 Februari 2016

Sukses Ujian Nasional lewat buku latihan

Judul Buku : Erlangga Fokus UN 2016 IPS/IPA untuk SMA/MA
Penyusun : Tim Erlangga Fokus SMA
Penerbit : Erlangga
Tahun Terbit : 2016
Tebal : 468 halaman

“Orang yang lulus dalam ujian adalah orang yang sejak dini mempersiapkan dirinya,” itulah nasihat guru ketika saya masih duduk di bangku SMA.
Ucapan guru tersebut mungkin tidak banyak yang memperhatikannya, maklum biasanya ketika guru memberi nasihat, maka ucapannya seperti masuk dari kuping sebelah kanan dan keluar langsung dari sebelah kiri alias tidak membekas. Tetapi bagi pelajar yang memang punya keinginan kuat belajar, setiap nasihat guru tentu akan membekas di dalam dirinya. Jangankan nasihat guru nasihat orangtuanya juga selalu membekas dalam otaknya.

Pelajar-pelajar semacam ini, tentu pada saat mengikuti ujian ia tidak begitu takut atau risau, karena sejak awal ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, terutama ujian akhir sekolah.

Maka tidak heran saat ini bermunculan bimbingan-bimbingan test, yang diharapkan memberi bimbingan kepada para siswa untuk bisa lulus dan mendapat nilai yang terbaik. Bimbingan test ini muncul mengingat di sekolah siswa terkesan tidak fokus terhadap mata pelajaran yang dipelajari atau boleh jadi cara mengajar para guru yang dinilai kurang dipahami siswa, sehingga siswa harus belajar lebih ekstra di bimbingan test yang ada.

Namun bagi siswa yang tidak mengikuti bimbingan test ia tidak perlu takut akan nilai ujiannya. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah belajar mandiri atau diskusi dengan teman. Untuk memudahkan belajar mandiri khususnya bagi para pelajar SMA/MA apakah itu jurusan IPA maupun IPS, penerbit Erlangga menerbitkan dua buku dengan judul yang sama yaitu Erlangga Fokus UN 2016. Namun satu buku berkenaan dengan jurusan IPS dan satu lagi jurusan IPA, jadi para pelajar bisa memilih diantara dua buku ini tergantung jurusannya masing-masing.

Untuk jurusan IPS buku ini akan membahas materi-materi latihan berisi mata pelajaran bahasa Indonesia, sosiologi, matematika, bahasa Inggris, geografi dan ekonomi. Sementara untuk jurusan IPA maka yang dibahas dalam buku tersebut berisi rangkuman materi soal tipe UN untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, biologi, matematika, bahasa Inggris, kimia dan fisika.

Buku yang berisi latihan-latihan ini, tentu tidak akan lengkap jika tidak dilampirkan dengan jawabannya. Namun sebelum menjawab latihan yang ada, diharapkan jangan sekali-kali langsung melihat jawabannya. Hal ini agar para pelajar bisa berpikir tentang jawaban yang harus ia jawab. Baru setelah semua terjawab, maka jawaban tersebut pada akhirnya akan dicocokkan dengan kunci jawaban yang ada. Lalu hitung berapa jawaban yang benar dan yang salah. 

Disarankan pada saat mengisi soal-soal tersebut dibuatlah semisal UN yang sesungguhnya. Buat waktunya dan lakukan yang harus dilakukan artinya, jawab dahulu soal yang mudah lalu berpindah ke yang sulit.

Buku yang tebal ini akan menarik bila dijadikan bahan kompetisi bagi para pelajar, sehingga cara belajar lewat buku ini semakin menarik. Jadi kenapa tidak membeli buku ini, agar kamu bisa sukses sesukses mereka yang memang sejak awal mempersiapkan dirinya untuk menghadapi UN di tahun ini.