HWI

Anda ingin memiliki berat badan ideal? Dapatkan produk diet sehat dan aman hanya di WA atau Phone +6281274588731

Resensimu

Senin, 09 Maret 2020

Jack Ma Sang Miliuner Dunia


jack ma sang miliuner duniaSiapa yang tidak kenal dengan Jack Ma, tokoh yang telah begitu banyak menginspirasi kaum muda masa kini? Bagaimana pandangannya tentang kehidupan pribadi dan filosofi tentang masa depan dan sukses kehidupan bisnisnya?

Dia adalah sosok yang menganggap masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkan diri. Kesuksesan adalah milik mereka yang tak kenal kata menyerah dan putus asa. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu fokus pada tujuan, berani mengambil resiko, serta tak mudah dikoyak kegagalan. Mereka yang sukses adalah mereka yang menjadikan setiap kegagalan sebagai cambuk kehidupan untuk terus bangkit.

Setidaknya itulah sedikit gambaran tentang sosok Jack Ma, salah satu manusia terkaya di seantero jagat saat ini. Banyak ditemukan kisah-kisah unik dari tokoh ini saat membaca biografi singkatnya dalam buku Jack Ma Sang Miliuner yang ditulis Eko Siswanto. Saya tertarik membaca titik balik atau the turning point, bagaimana tokoh yang tadinya adalah orang biasa, kelak menjadi pendiri satu perusahaan e-commerce terbesar dalam sejarah Tiongkok.

Sudah sepantasnya kita belajar dari kehidupan Jack Ma. Kisahnya sungguh menarik. Dia terlahir dengan nama Ma Yuan, di daerah Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Ayahnya hanya seorang fotografer dan pendongeng tradisional di Tiongkok, sedang ibunya bekerja sebagai buruh pabrik.

Jack Ma menjalani masa kecil yang berat. Ia juga berkali-kali ditolak saat hendak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Jack Ma bukanlah seseorang yang unggul dalam banyak hal. Satu-satunya kemampuan yang ia miliki hanyalah bahasa Inggris. Dalam satu wawancara ia mengatakan, pemahamannya terhadap bahasa Inggris membantunya memahami dunia luar.

Dia pernah menjadi guru bahasa Inggris setelah lulus dari Hangzhou Teacher's College tahun 1988. Gajinya tergolong kecil. Ia menjadi dosen yang miskin. Ia kemudian mencoba peruntungan dengan  mencari pekerjaan baru yang lebih layak. Ia lalu melamar di banyak perusahaan. Sayang, semua lamarannya ditolak. Ia juga pernah melamar di KFC saat pertama kali membuka cabang di Hangzhou. Dari 24 pelamar, 23 orang diterima kecuali satu orang; Jack Ma.

Tekad pria kurus itu memang tak mudah diruntuhkan. Penolakan demi penolakan justru membuatnya semakin percaya diri untuk membangun bisnis sendiri. Di tahun 1994, ia membuka semacam agensi penerjemah bahasa asing. Itulah bisnis pertama yang ia jalankan. Sayang, bisnis itu tak berlangsung lama karena tak memberi banyak keuntungan.

Titik balik hidupnya bermula saat Jack Ma pergi ke Seattle, Amerika Serikat di tahun 1995. Di sana, untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan internet. Di negeri Paman Sam itu, ia bertemu dengan Stuart Trusty, pendiri salah satu perusahaan konsultan bernama Virtual Broadcast Network yang dengan senang hati menjelaskan kecanggihan internet pada Jack Ma.

Sekembali dari Amerika, ia lalu mendirikan perusahaan dengan spesialisasi di bidang internet. Ia membuat situs web, sebuah layanan online directory yang berisi daftar nomor telepon dan identitas perusahaan seluruh Tiongkok yang siap dipromosikan ke dalam dan luar negeri. Perusahaan itu dikenal dengan nama China Pages.Lagi-lagi Jack Ma harus menelan pill pahit. Tekadnya untuk membesarkan Cina Pages kembali kandas. Hilir mudik ia mendatangi kantor pemerintah di Beijing demi mendapatkan dukungan dan bantuan. Namun la tetap ditolak. Perusahaan yang hendak dibangun Ma dinilai belum layak go online. Hal ini membuat China Pages kekurangan dana. Ma tidak bisa menggaji karyawannya. Sebagai solusi, ia kemudian melepas China Pages kepada pemerintah.

Setelah gagal membesarkan China Pages, Ma tak juga kapok. Ia memutuskan untuk kembali ke Guangzhou pada tahun 1999, setelah lama menetap di Beijing. Waktu itu, demam internet sedang menggurita di Amerika Serikat. eBay dan Amazon muncul sebagai perusahaan marketplace dengan valuasi terbesar.
Pada saat yang sama, internet juga sudah mulai menjangkau Tiongkok meskipun belum dikenal masyarakat secara luas. Tiongkok tercatat sebagai negara yang pernah melakukan batasan keras terhadap teknologi baru itu. Pemerintah Tiongkok melakukan pengendalian terhadap pembicaraan-pembicaraan yang berseliweran di internet, memantau lalu lintas percakapan, mengendalikan ruang gerak, filterisasi konten-konten, bahkan tak segan memblokir situs web asing.

Ma melihat fenomena ini sebagai peluang. Ia kemudian berinisiatif untuk mendirikan perusahaan bernama Alibaba. Nama Alibaba sendiri terinspirasi dari kisah 1001 malam. Dalam berbagai versi, semua orang tentu pernah mendengar kisah tentang anak muda bernama Alibaba yang mengalahkan 40 penyamun. Kelak, di tangan seorang Jack Ma, Alibaba dengan cepat menjelma sebagai salah satu raksasa bisnis dunia.

Saya senang membaca kisah Jack Ma ini. Saya senang membaca kisah mereka yang merintis karir dari nol. Saya terinspirasi dengan mereka yang selalu berhasil bangkit meskipun kerap jatuh berkali-kali. Ma mengingatkan saya pada sosok Ciputra di tanah air yang juga memulai segala sesuatunya dari bawah. Banyak yang bilang bahwa orang hebat tak pernah lahir dari zona nyaman atau comfort zone. Orang hebat bukanlah mereka yang mewarisi hidup serba ada dan serba nyaman. Orang hebat adalah mereka yang tertantang melakukan sesuatu, lalu berani menerabas jalan nasib di atas peluh yang menetes dari usahanya sendiri.

Satu hal yang saya sukai adalah ungkapan Jack Ma tentang kesuksesan, "Saat kamu miskin dan belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tetapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi."

Data identitas buku :
  • Jumlah Halaman : 212
  • Tanggal Terbit : 25 Jan 2019
  • ISBN : 9786024074975
  • Bahasa : Indonesia
  • Penerbit : Laksana
  • Berat : 0.185 kg
  • Lebar : 14 cm
  • Panjang : 20 cm



Minggu, 12 Mei 2019

The Leader Who Had No Title

Anda tentu sudah mengenal siapa Robin Sharma. Dia adalah seorang konsultan kepemimpinan di berbagai perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500, yaitu Microsoft, GE, Nike, FedEx, dan IBM. Buku The Leader Who Had No Title ini adalah inti sari dari 15 tahun pengalamannya sebagai konsultan ternama. Selain itu, Robin juga sukses mengelola organisasi berskala internasional seperti Yale University, American Red Cross, dan Young Presidents Organization.

Dalam buku ini, Robin Sharma berusaha mendobrak teori kepemimpinan yang selama ini lazim diterapkan. Selama ini hampir semua orang berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin itu butuh jabatan khusus. Baik dalam bidang bisnis, pendidikan, militer, dan yang lainnya. Namun, Robin justru mengatakan, siapa pun di dunia ini bisa jadi pemimpin. Memimpin bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan bagi orang yang tak punya jabatan penting. Dalam bukunya, Sharma melibatkan dua orang tokoh sentral dalam membahas  konsep kepemimpiannya. Dia adalah Blake Davis (29) dan Tommy Flinn (77). Blake Davis adalah mantan tentara yang pernah dikirim ke Irak. Pengalaman buruknya selama menjadi tentara membuatnya trauma dan enggan menjalani hidup sebagai tentara setelah keluar dari tugas militer. Sehingga, ia kembali menjadi seorang sipil dan bekerja di sebuah toko buku. 
Di tengah kekalutannya, Blake bertemu seorang bernama Tommy Flinn yang mengaku sebagai teman mendiang ayahnya. Tommy juga bekerja di toko tempatnya bekerja. Dia berusaha menularkan semangat agar Blake bisa menjalani hidup dengan baik, terutama dalam rutinitasnya sebagai karyawan toko buku.
Tommy mengaku, kalau sejak dulu dia hanya karyawan biasa. Di usianya yang sudah senja-sudah lewat waktu pensiun-dia tak tertarik dengan jabatan apa pun di perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, banyak tawaran dan kesempatan agar Tommy menjadi manajer yang bisa menikmati segala fasilitas kantor, termasuk mobil perusahaan dan seluruh tanggungan hidupnya. Tapi, semuanya ditolak.
Blake penasaran, apa yang membuat Tommy tak tertarik menjadi seorang pemimpin dalam perusahaan. Dengan sabar Tommy menjelaskan bahwa, segala elemen dalam perusahaan itu bisa jadi pemimpin, tanpa harus punya jabatan. Untuk berhasil, semua orang harus melihat diri mereka sebagai bagian tim kepemimpinan (hlm. 20).
Apa yang kira-kira terjadi pada suatu simfoni jika satu saja pemainnya sumbang dan kurang andal berkesenian? Tentu, musiknya akan buruk dan semuanya berantakan. Tak ada peran yang sepele. Hal ini juga berlaku dalam bisnis. Tommy menjelaskan, satu-satunya cara agar semua organisasi-dan manusia, dalam hal ini-bertahan dalam masa perubahan revolusioner ini adalah dengan menggunakan model kepemimpinan baru yang revolusioner. Model ini menciptakan lingkungan dan budaya yang menuntut semua orang menjadi pemimpin.
Lebih lanjut, Tommy menambahkan bahwa semua orang itu perlu menghasilkan inovasi. Semua orang perlu menginspirasi teman satu tim, merengkuh perubahan, dan perlu bersikap positif. Semua orang perlu mengerahkan diri untuk unjuk yang terbaik. Begitu mereka lakukan itu, organisasi tak hanya beradaptasi dengan indah dalam kondisi yang berubah-ubah, tapi juga menjadi yang terdepan di bidangnya (hlm. 21).
Lewat buku 264 halaman ini, Robin Sharma menyodorkan konsep kepemimpinan yang tidak biasa. Dia ingin menegaskan bahwa, menjadi pemimpin itu ada seninya, ada rahasianya, dan semua orang memilikinya. Semua orang punya kekuatan alami untuk memimpin dan tidak ada kaitannya dengan jabatan tinggi, berapa umur mereka, atau di mana mereka tinggal. Siapa pun dan di mana pun di dunia ini, dapat melangkah ke arena dan mengemban tanggung jawab untuk memicu perubahan, mengungkap kehebatan, dan unjuk kepemimpinan.
Robin menegaskan, jika mau mengoptimalkan diri, semua orang punya sumber potensi kepemimpinan. Kepemimpinan tak ada hubungannya dengan apa yang seseorang dapat atau di mana dia duduk. Kepemimpinan lebih menyangkut secerdas apa seseorang bekerja dan sepiawai apa dia berperilaku. Tujuannya adalah berkarya hebat-di tempat dia berada.
Luar biasa.

Berikut data  pustaka selengkapnya :
Penulis : Robin Sharma
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2019
Tebal : xii + 264 Halaman

ISBN : 9786022915065