HWI

Anda ingin memiliki berat badan ideal? Dapatkan produk diet sehat dan aman hanya di WA atau Phone +6281274588731

Resensimu

Senin, 09 Maret 2020

Jack Ma Sang Miliuner Dunia


jack ma sang miliuner duniaSiapa yang tidak kenal dengan Jack Ma, tokoh yang telah begitu banyak menginspirasi kaum muda masa kini? Bagaimana pandangannya tentang kehidupan pribadi dan filosofi tentang masa depan dan sukses kehidupan bisnisnya?

Dia adalah sosok yang menganggap masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkan diri. Kesuksesan adalah milik mereka yang tak kenal kata menyerah dan putus asa. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu fokus pada tujuan, berani mengambil resiko, serta tak mudah dikoyak kegagalan. Mereka yang sukses adalah mereka yang menjadikan setiap kegagalan sebagai cambuk kehidupan untuk terus bangkit.

Setidaknya itulah sedikit gambaran tentang sosok Jack Ma, salah satu manusia terkaya di seantero jagat saat ini. Banyak ditemukan kisah-kisah unik dari tokoh ini saat membaca biografi singkatnya dalam buku Jack Ma Sang Miliuner yang ditulis Eko Siswanto. Saya tertarik membaca titik balik atau the turning point, bagaimana tokoh yang tadinya adalah orang biasa, kelak menjadi pendiri satu perusahaan e-commerce terbesar dalam sejarah Tiongkok.

Sudah sepantasnya kita belajar dari kehidupan Jack Ma. Kisahnya sungguh menarik. Dia terlahir dengan nama Ma Yuan, di daerah Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Ayahnya hanya seorang fotografer dan pendongeng tradisional di Tiongkok, sedang ibunya bekerja sebagai buruh pabrik.

Jack Ma menjalani masa kecil yang berat. Ia juga berkali-kali ditolak saat hendak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Jack Ma bukanlah seseorang yang unggul dalam banyak hal. Satu-satunya kemampuan yang ia miliki hanyalah bahasa Inggris. Dalam satu wawancara ia mengatakan, pemahamannya terhadap bahasa Inggris membantunya memahami dunia luar.

Dia pernah menjadi guru bahasa Inggris setelah lulus dari Hangzhou Teacher's College tahun 1988. Gajinya tergolong kecil. Ia menjadi dosen yang miskin. Ia kemudian mencoba peruntungan dengan  mencari pekerjaan baru yang lebih layak. Ia lalu melamar di banyak perusahaan. Sayang, semua lamarannya ditolak. Ia juga pernah melamar di KFC saat pertama kali membuka cabang di Hangzhou. Dari 24 pelamar, 23 orang diterima kecuali satu orang; Jack Ma.

Tekad pria kurus itu memang tak mudah diruntuhkan. Penolakan demi penolakan justru membuatnya semakin percaya diri untuk membangun bisnis sendiri. Di tahun 1994, ia membuka semacam agensi penerjemah bahasa asing. Itulah bisnis pertama yang ia jalankan. Sayang, bisnis itu tak berlangsung lama karena tak memberi banyak keuntungan.

Titik balik hidupnya bermula saat Jack Ma pergi ke Seattle, Amerika Serikat di tahun 1995. Di sana, untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan internet. Di negeri Paman Sam itu, ia bertemu dengan Stuart Trusty, pendiri salah satu perusahaan konsultan bernama Virtual Broadcast Network yang dengan senang hati menjelaskan kecanggihan internet pada Jack Ma.

Sekembali dari Amerika, ia lalu mendirikan perusahaan dengan spesialisasi di bidang internet. Ia membuat situs web, sebuah layanan online directory yang berisi daftar nomor telepon dan identitas perusahaan seluruh Tiongkok yang siap dipromosikan ke dalam dan luar negeri. Perusahaan itu dikenal dengan nama China Pages.Lagi-lagi Jack Ma harus menelan pill pahit. Tekadnya untuk membesarkan Cina Pages kembali kandas. Hilir mudik ia mendatangi kantor pemerintah di Beijing demi mendapatkan dukungan dan bantuan. Namun la tetap ditolak. Perusahaan yang hendak dibangun Ma dinilai belum layak go online. Hal ini membuat China Pages kekurangan dana. Ma tidak bisa menggaji karyawannya. Sebagai solusi, ia kemudian melepas China Pages kepada pemerintah.

Setelah gagal membesarkan China Pages, Ma tak juga kapok. Ia memutuskan untuk kembali ke Guangzhou pada tahun 1999, setelah lama menetap di Beijing. Waktu itu, demam internet sedang menggurita di Amerika Serikat. eBay dan Amazon muncul sebagai perusahaan marketplace dengan valuasi terbesar.
Pada saat yang sama, internet juga sudah mulai menjangkau Tiongkok meskipun belum dikenal masyarakat secara luas. Tiongkok tercatat sebagai negara yang pernah melakukan batasan keras terhadap teknologi baru itu. Pemerintah Tiongkok melakukan pengendalian terhadap pembicaraan-pembicaraan yang berseliweran di internet, memantau lalu lintas percakapan, mengendalikan ruang gerak, filterisasi konten-konten, bahkan tak segan memblokir situs web asing.

Ma melihat fenomena ini sebagai peluang. Ia kemudian berinisiatif untuk mendirikan perusahaan bernama Alibaba. Nama Alibaba sendiri terinspirasi dari kisah 1001 malam. Dalam berbagai versi, semua orang tentu pernah mendengar kisah tentang anak muda bernama Alibaba yang mengalahkan 40 penyamun. Kelak, di tangan seorang Jack Ma, Alibaba dengan cepat menjelma sebagai salah satu raksasa bisnis dunia.

Saya senang membaca kisah Jack Ma ini. Saya senang membaca kisah mereka yang merintis karir dari nol. Saya terinspirasi dengan mereka yang selalu berhasil bangkit meskipun kerap jatuh berkali-kali. Ma mengingatkan saya pada sosok Ciputra di tanah air yang juga memulai segala sesuatunya dari bawah. Banyak yang bilang bahwa orang hebat tak pernah lahir dari zona nyaman atau comfort zone. Orang hebat bukanlah mereka yang mewarisi hidup serba ada dan serba nyaman. Orang hebat adalah mereka yang tertantang melakukan sesuatu, lalu berani menerabas jalan nasib di atas peluh yang menetes dari usahanya sendiri.

Satu hal yang saya sukai adalah ungkapan Jack Ma tentang kesuksesan, "Saat kamu miskin dan belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tetapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi."

Data identitas buku :
  • Jumlah Halaman : 212
  • Tanggal Terbit : 25 Jan 2019
  • ISBN : 9786024074975
  • Bahasa : Indonesia
  • Penerbit : Laksana
  • Berat : 0.185 kg
  • Lebar : 14 cm
  • Panjang : 20 cm



Minggu, 12 Mei 2019

The Leader Who Had No Title

Anda tentu sudah mengenal siapa Robin Sharma. Dia adalah seorang konsultan kepemimpinan di berbagai perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500, yaitu Microsoft, GE, Nike, FedEx, dan IBM. Buku The Leader Who Had No Title ini adalah inti sari dari 15 tahun pengalamannya sebagai konsultan ternama. Selain itu, Robin juga sukses mengelola organisasi berskala internasional seperti Yale University, American Red Cross, dan Young Presidents Organization.

Dalam buku ini, Robin Sharma berusaha mendobrak teori kepemimpinan yang selama ini lazim diterapkan. Selama ini hampir semua orang berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin itu butuh jabatan khusus. Baik dalam bidang bisnis, pendidikan, militer, dan yang lainnya. Namun, Robin justru mengatakan, siapa pun di dunia ini bisa jadi pemimpin. Memimpin bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan bagi orang yang tak punya jabatan penting. Dalam bukunya, Sharma melibatkan dua orang tokoh sentral dalam membahas  konsep kepemimpiannya. Dia adalah Blake Davis (29) dan Tommy Flinn (77). Blake Davis adalah mantan tentara yang pernah dikirim ke Irak. Pengalaman buruknya selama menjadi tentara membuatnya trauma dan enggan menjalani hidup sebagai tentara setelah keluar dari tugas militer. Sehingga, ia kembali menjadi seorang sipil dan bekerja di sebuah toko buku. 
Di tengah kekalutannya, Blake bertemu seorang bernama Tommy Flinn yang mengaku sebagai teman mendiang ayahnya. Tommy juga bekerja di toko tempatnya bekerja. Dia berusaha menularkan semangat agar Blake bisa menjalani hidup dengan baik, terutama dalam rutinitasnya sebagai karyawan toko buku.
Tommy mengaku, kalau sejak dulu dia hanya karyawan biasa. Di usianya yang sudah senja-sudah lewat waktu pensiun-dia tak tertarik dengan jabatan apa pun di perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, banyak tawaran dan kesempatan agar Tommy menjadi manajer yang bisa menikmati segala fasilitas kantor, termasuk mobil perusahaan dan seluruh tanggungan hidupnya. Tapi, semuanya ditolak.
Blake penasaran, apa yang membuat Tommy tak tertarik menjadi seorang pemimpin dalam perusahaan. Dengan sabar Tommy menjelaskan bahwa, segala elemen dalam perusahaan itu bisa jadi pemimpin, tanpa harus punya jabatan. Untuk berhasil, semua orang harus melihat diri mereka sebagai bagian tim kepemimpinan (hlm. 20).
Apa yang kira-kira terjadi pada suatu simfoni jika satu saja pemainnya sumbang dan kurang andal berkesenian? Tentu, musiknya akan buruk dan semuanya berantakan. Tak ada peran yang sepele. Hal ini juga berlaku dalam bisnis. Tommy menjelaskan, satu-satunya cara agar semua organisasi-dan manusia, dalam hal ini-bertahan dalam masa perubahan revolusioner ini adalah dengan menggunakan model kepemimpinan baru yang revolusioner. Model ini menciptakan lingkungan dan budaya yang menuntut semua orang menjadi pemimpin.
Lebih lanjut, Tommy menambahkan bahwa semua orang itu perlu menghasilkan inovasi. Semua orang perlu menginspirasi teman satu tim, merengkuh perubahan, dan perlu bersikap positif. Semua orang perlu mengerahkan diri untuk unjuk yang terbaik. Begitu mereka lakukan itu, organisasi tak hanya beradaptasi dengan indah dalam kondisi yang berubah-ubah, tapi juga menjadi yang terdepan di bidangnya (hlm. 21).
Lewat buku 264 halaman ini, Robin Sharma menyodorkan konsep kepemimpinan yang tidak biasa. Dia ingin menegaskan bahwa, menjadi pemimpin itu ada seninya, ada rahasianya, dan semua orang memilikinya. Semua orang punya kekuatan alami untuk memimpin dan tidak ada kaitannya dengan jabatan tinggi, berapa umur mereka, atau di mana mereka tinggal. Siapa pun dan di mana pun di dunia ini, dapat melangkah ke arena dan mengemban tanggung jawab untuk memicu perubahan, mengungkap kehebatan, dan unjuk kepemimpinan.
Robin menegaskan, jika mau mengoptimalkan diri, semua orang punya sumber potensi kepemimpinan. Kepemimpinan tak ada hubungannya dengan apa yang seseorang dapat atau di mana dia duduk. Kepemimpinan lebih menyangkut secerdas apa seseorang bekerja dan sepiawai apa dia berperilaku. Tujuannya adalah berkarya hebat-di tempat dia berada.
Luar biasa.

Berikut data  pustaka selengkapnya :
Penulis : Robin Sharma
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2019
Tebal : xii + 264 Halaman

ISBN : 9786022915065

Jumat, 19 Februari 2016

Sukses Ujian Nasional lewat buku latihan

Judul Buku : Erlangga Fokus UN 2016 IPS/IPA untuk SMA/MA
Penyusun : Tim Erlangga Fokus SMA
Penerbit : Erlangga
Tahun Terbit : 2016
Tebal : 468 halaman

“Orang yang lulus dalam ujian adalah orang yang sejak dini mempersiapkan dirinya,” itulah nasihat guru ketika saya masih duduk di bangku SMA.
Ucapan guru tersebut mungkin tidak banyak yang memperhatikannya, maklum biasanya ketika guru memberi nasihat, maka ucapannya seperti masuk dari kuping sebelah kanan dan keluar langsung dari sebelah kiri alias tidak membekas. Tetapi bagi pelajar yang memang punya keinginan kuat belajar, setiap nasihat guru tentu akan membekas di dalam dirinya. Jangankan nasihat guru nasihat orangtuanya juga selalu membekas dalam otaknya.

Pelajar-pelajar semacam ini, tentu pada saat mengikuti ujian ia tidak begitu takut atau risau, karena sejak awal ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, terutama ujian akhir sekolah.

Maka tidak heran saat ini bermunculan bimbingan-bimbingan test, yang diharapkan memberi bimbingan kepada para siswa untuk bisa lulus dan mendapat nilai yang terbaik. Bimbingan test ini muncul mengingat di sekolah siswa terkesan tidak fokus terhadap mata pelajaran yang dipelajari atau boleh jadi cara mengajar para guru yang dinilai kurang dipahami siswa, sehingga siswa harus belajar lebih ekstra di bimbingan test yang ada.

Namun bagi siswa yang tidak mengikuti bimbingan test ia tidak perlu takut akan nilai ujiannya. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah belajar mandiri atau diskusi dengan teman. Untuk memudahkan belajar mandiri khususnya bagi para pelajar SMA/MA apakah itu jurusan IPA maupun IPS, penerbit Erlangga menerbitkan dua buku dengan judul yang sama yaitu Erlangga Fokus UN 2016. Namun satu buku berkenaan dengan jurusan IPS dan satu lagi jurusan IPA, jadi para pelajar bisa memilih diantara dua buku ini tergantung jurusannya masing-masing.

Untuk jurusan IPS buku ini akan membahas materi-materi latihan berisi mata pelajaran bahasa Indonesia, sosiologi, matematika, bahasa Inggris, geografi dan ekonomi. Sementara untuk jurusan IPA maka yang dibahas dalam buku tersebut berisi rangkuman materi soal tipe UN untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, biologi, matematika, bahasa Inggris, kimia dan fisika.

Buku yang berisi latihan-latihan ini, tentu tidak akan lengkap jika tidak dilampirkan dengan jawabannya. Namun sebelum menjawab latihan yang ada, diharapkan jangan sekali-kali langsung melihat jawabannya. Hal ini agar para pelajar bisa berpikir tentang jawaban yang harus ia jawab. Baru setelah semua terjawab, maka jawaban tersebut pada akhirnya akan dicocokkan dengan kunci jawaban yang ada. Lalu hitung berapa jawaban yang benar dan yang salah. 

Disarankan pada saat mengisi soal-soal tersebut dibuatlah semisal UN yang sesungguhnya. Buat waktunya dan lakukan yang harus dilakukan artinya, jawab dahulu soal yang mudah lalu berpindah ke yang sulit.

Buku yang tebal ini akan menarik bila dijadikan bahan kompetisi bagi para pelajar, sehingga cara belajar lewat buku ini semakin menarik. Jadi kenapa tidak membeli buku ini, agar kamu bisa sukses sesukses mereka yang memang sejak awal mempersiapkan dirinya untuk menghadapi UN di tahun ini. 

Kamis, 18 Februari 2016

Better Life With Action: 10 Langkah Sukses Usia Muda

blwaJudul Buku :
Better Life With Action: 10 Langkah Sukses Usia Muda.
Penulis : Syafii Efendi
Penerbit : Jawara Bisnis Grup
Editor : Gerandin Sadewa
Cetakan : November 2015
Halaman : 194 Halaman

Buku Better Life With Action (10 Langkah Sukses Usia Muda) ini merupakan karya salah seorang motivator dan trainer termuda No 1 di Indonesia yaitu Syafii Efendi. Beberapa fokus programnya ialah seperti entrepreneurship seminar, public speaking & communication skill training, unlimited sales and marketing serta motivation for teen yang menjadi salah satu program yang sering dicari oleh masyarakat Indone­sia. Beliau mengemas sangat baik buku ini dengan tujuan untuk menja­dikan anak muda sebagai peran paling penting dalam memajukan masyara­kat dan bangsa ini, karena setiap anak muda adalah agen perubahan (agent of change) bagi lingkungannya.

Buku ini memberikan kita sema­ngat perubahan, semangat untuk ke­luar dari keterpurukan dan sema­ngat untuk mencapai impian serta mem­berikan langkah mudah yang bisa dipraktekkan oleh anak muda untuk sukses di usia muda. Buku ini berbeda dengan buku-buku motivasi sukses atau langkah-langkah sukses yang pernah saya baca. Buku ini benar-benar mengajak kita untuk harus benar-benar bergegas melaku­kan sebuah tindakan. Action dan action. Tidak hanya berdiam diri saja. Bertindak sekarang juga, tidak me­nunggu nanti atau esok hari. Waktu itu sangat berharga, manfaatkanlah se­tiap detik itu dengan sebaik-baiknya. Waktu adalah uang. Jangan sia-siakan itu. Membaca buku ini membuat kita terus semangat dalam hidup, menam­bah semangat kita setiap harinya menjalankan segala aktivitas. Dapat kita lihat dari kalimat "Hidup hanya sebentar, wujudkan mimpimu dan sebarkan semangat hidupmu." Itulah yang benar-benar telah di capai se­orang Syafii Efendi, apa yang ia im­pikan dan cita-citakan. Sampai saat ini ia terus menebarkan semangat hidup­nya kepada semua orang tak hanya anak muda, mulai dari anak remaja hingga orang dewa­sa dengan menjadi seorang motivator dan trainer. Penulis sangat antusias dan bersema­ngat melakukan perubahan terbaiknya. Beliau menje­laskan secara rinci dan mudah dipa­ha­mi mengenai lang­kah-langkah sukses usia muda, dan intinya 10 langkah sukses usia muda diantara­nya ialah: Berani Bermimpi, Pahami Diri dan Tentukan Tujuan Sukses, Kalahkan Nafsu dan Kemalas­an, Kemudian jadilah solusi masalah dan agent of change (Agen Peruba­han), Aplikasi Hukum Law of Attrac­tion, Pahami Hukum Perbandingan, Latihan Jurus Otot Adaptasi, Jurus Komitmen dan Persisten, Berbakti Kepada Kedua Orangtua, Serta Beriman Kepada Sang Pencipta.

Buku ini terdiri atas 10 Bab. Cover atau sampul depan buku juga di desain sangat menarik dengan gambar atau profil penulis. Baik di sampul depan maupun bagian sampul belakang buku terdapat kalimat atau kata-kata inspiratif singkat dari orang-orang hebat yang sudah membaca buku ini, seperti Bahlil Lahadalia (Ketua Umum BPP HIPMI 2015-2016), Fahira Fahmi Idris (Pengusaha,Komite 3 DPD RI,Gera­kan Anti Miras dan DPP IKAPPI), Dr Ahmad Subagyo (Ketua STIE Gici Business School, Dewan Komi­saris Pupuk Kujang, The World Bank Researcher,dan Ketua Komisa­riat Institusi Organisasi Ahli Ekono­mi Islam) dan Kusnandar (Staf Pribadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI).

Buku ini mempunyai kelebihan diantaranya, setiap awal bab terdapat kata-kata motivasi dan inspirasi hebat, selain itu setiap bab pada pembahasannya disertai dengan gambar yang dapat memudahkan pem­baca memahami maksudnya, setiap bab disertai kesimpulan yang memudahkan pembaca memahami intisari dari pembahasan, terdapat beberapa Kisah Inspiratif yang dapat dijadikan contoh dan panutan bagi para pembaca, dan dalam buku ini saya akui lebih banyak kelebihannya dari pada kekurangannya, namun ada beberapa hal yang menjadi kekura­ngan buku ini seperti terdapat bebe­rapa kesalahan penulisan dan bebe­rapa kata asing yang kurang dipahami dan dimengerti pembaca. Dengan demikian, buku ini tidak hanya memotivasi tetapi juga menginspirasi khususnya untuk muda-mudi yang ingin cepat sukses di usia muda.

Kewirausahaan : Keluar dari zona nyaman

kewirausahaanJudul Buku : Kewirausahaan
Penulis : Dr. Rasmulia Sembiring, SE,MMA
Penerbit : La Goods Publishing
Dicetak : Desember 2012
Halaman : 258 + viii

Sejak dilahirkan ke dunia, manusia senantiasa berada dalam daerah aman dan nyaman (comport zone). Perhatian orangtua menjadi comport zone yang pertama. Pemenuhan pendidikan sampai ke tingkat pendidikan tinggi menjadikan kita seperti berada di daerah yang benar-benar sangat nyaman. Ini mungkin berlaku bagi orang-orang yang masih dibiayai oleh orangtua.

Pentingnya kita mendapatkan pendidikan adalah untuk mengem­bangkan mind set atau pola piker. Bukan serta merta dengan pendidikan kita langsung bisa mendapatkan apa yang kita harapkan.

Pendidikan yang kita peroleh telah membuka lebar-lebar mata dan pikiran kita untuk menangkap peluang yang ada. Segeralah keluar dari zona nyaman untuk menggali potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Buku Kewirausahaan ini mengajak kita untuk membuka mata dan mencoba keluar dari zona nyaman menjadi seorang entrepreneur yang berani. Menjadi seorang pengusaha yang tak pernah gentar dengan tantangan.

Pola pikir seorang pengusaha harus bisa mengidentifikasi kondisi yang tidak pasti dan tidak dapat diprediksi menjadi peluang bisnis potensial dan segera mengambil kesempatan terse­but dengan penuh percaya diri.

Pengusaha dituntut jeli dalam menangkap sinyal dan mengurangi bahaya, serta menghindari peman­faatan sumber daya yang tidak pro­porsional. Dengan demikian, ketidak­pastian harus dilihat sebagai peluang dan bukan ancaman.

Seorang wirausaha tidak hanya pandai memainkan perannya sebagai pemimpin yang bisa membakar semangat bawa­hannya untuk kerja lebih sema­ngat dan kreatif. Menggali po­tensi diri sangat penting dila­kukan setiap saat meskipun kondisi perusahaan sudah mapan. Karena potensi yang dimiliki manusia itu begitu banyak, tinggal kita yang pandai-pandai melakukan elaborasi potensi. Bisa jadi potensi ini lahir ketika ada perubahan, atau kondisi di luar perusahaan yang menghendaki harus berubah agar bisa mengikuti arus zaman.

Buku ini dilengkapi dengan tes kepribadian untuk menilai apakah kita benar-benar sudah layak menjadi seorang wirausaha atau belum. Ketika hari ini kita memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha dan berani mengambil keputusan keluar dari zona nyaman, ada beberapa hal perlu menjadi pertimbangan. Salah satu yang terpenting adalah memiliki motivasi, kerja keras, komitmen dan selalu jujur dalam melakukan tindakan.

Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dengan kerja keras, bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa otak seorang wirausha tidak pernah tidur dan terus berputar memikirkan usahanya, meskipun fisiknya tertidur nyenyak kecapaian.

Seorang wirausahawan sejati, harus mau belajar dan terus belajar agar kelak usaha yang digelutinya bisa go internasional. Apalagi dengan dibukanya pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dimana pe­ngu­saha di beberapa negara anggota Asean bisa memasarkan hasil produk­sinya dengan mudah ke negara lain.

Keluar dari zona nyaman adalah pilihan yang sangat berat, karena biasanya kita menerima gaji bulanan akhirnya harus bekerja keras dan komitmen untuk mendapatkan untung yang besar. Hanya saja, begitu kita keluar dari zona nyaman kita bisa menentukan jam kerja dan mengatur segala sesuatunya dengan professional.

Senin, 18 Januari 2016

Book Review: 'Understanding Public Policy' by Paul Cairney


Product Details

Paperback: 352 pages
Publisher: Palgrave Macmillan (October 15, 2011)
Language: English
ISBN-10: 0230229719
ISBN-13: 978-0230229716
Product Dimensions: 6.2 x 0.8 x 9.3 inches


Book reviews may or may not become a more regular feature on this blog. Evidently, as a practician, I read a lot. And every so often, I come across a book that is not only a pleasure to read, but also highly useful to my work and research. It is books like these that I find deserves a broader audience. One such book is 'Understanding Public Policy' by Scotsman Paul Cairney, who is otherwise known for having co-authored an introduction to Scottish Politics.

What is in the book?

As with his book on Scottish Politics, Dr. Cairney excels at writing introductions to tough topics that are engaging and informative, yet without compromising on the depth and complexity of the issue at hand.

Understanding Public Policy: Theories and Issues - the title gives it away - introduces the reader to the study of public policy in political science. As it says on the cover, to the theories and issues in this particular field. The emphasis of the book is clearly on the theories, which structure the book. The issues come in throughout the book to illustrate the theoretical points at every step.

The book has 13 chapters, which can roughly be seen as covering 3 parts:

The first two chapters given an introduction and ask "How Should We Study It?". The second chapter in particular seeks to provide the reader with a quick-guide on why theory, models and heuristics are needed and what they do. It also describes some of the pitfalls of studying public policy. Though the chapter can obviously not compete with book fully dedicated to heuristics and (meta-)theory, it does provide the reader with a good introductory primer. It still is the perhaps weakest part of the book.

Chapters 3 to 7 cover the "big" theories in the field, from Institutionalism to Rational Choice. Here, Cairney's strength comes into its own. Each of these fields is a gargantuan literature in itself. He does and excellent job of covering the basics, highlighting formative and current debates and illustrate them with actual issues.

Chapters 8 to 12 cover some of the more specialist theories, ranging from Multi-Level Governance to Policy Transfer. Once more, Cairney's skill in condensing the key elements of these scholarships into readable chapters, studded with definitions and explanations, makes these chapters and the book in general such a highly informative read.
Why should read it and why?

The book makes an excellent introduction for students or scholars entering the field of public policy. These are arguably its main audience and the book does an excellent job speaking to them.

I especially liked the short side-bar definitions of key terms and the occasional box that highlights some of the odder twists and turns that this literature has taken on some public policy questions in the past.

Cairney's ability to draw from both classic and the most recent papers to present the discourse in each of these fields also makes the book an excellent for everyone seeking to refresh his knowledge in one of the fields covered by Cairney. Every chapter is, in essence, an up-to-date (to the publication) literature review of its field, which provides the reader with a solid basis and understanding. From there, it is easy to plunge in, to read, explore and write on any particular research-topic within the field.

I have found the book incredibly useful when I drafted a new conference paper. I recently set out to write on my personal subject of interest, aid evaluation, from a new angle of policy transfer. I couldn't have hoped for a better rough guide to the literature than the one I found in 'Understanding Public Policy'. Highly recommended.

Sabtu, 02 Januari 2016

A Book Review Of George Orwell's "Animal Farm"

Paperback: 124 pages
Publisher: Rupa; First Edition edition (August 31, 2013)
Language: English
ISBN-10: 812911612X
ISBN-13: 978-8129116123
Product Dimensions: 7 x 4.6 x 0.3 inches

Animal Farm is a savage satire on communist revolution written by George Orwell. Set on an English Farm named Manor Farm, this fable-like story concerns the misery that the animals faced in the hands of human beings. The story opens with Mr. Jones, a capable farmer, stumbling into bed after a night of excessive whisky drinking. Old Major, a reverential, time-honored pig, called all the animals together for a meeting which took place after Mr. Jones had gone to bed. They gathered outside the big barn on the farm. Old Major told them his extraordinary dream in which he saw his approaching death, and pointed out that their lives as farm animals were miserable, laborious, and short. They were forced to work like slaves up to the last atom of their strength, and once their usefulness had come to an end, they were slaughtered. Moreover, Old Major said that there is no animal in England that was free, and none of them should escape the cruel knife in the end. Old Major affirmed that the root cause of the farm animals' infelicitous existence was the tyranny of man.

For Old Major, mankind is lazy and is the only real enemy of the animals. Mankind is the root cause of hunger and overwork, stealing the whole produce of animal labor and consumes without producing. Indeed, he is the tyrant who serves the interests of no one else except himself. Old Major described his vision of England where animals could live in peaceful and plentiful coexistence with each other, free from the despotic rule of man. He taught the animals "Beasts of England", a song which became their revolutionary anthem.

Old Major exhorted the farm animals to band together to defeat their common enemy by carrying out a rebellion, which led them to the establishment of Animal Farm, their model community in which all animals were equal. Two pigs, Napoleon and Snowball, gained control of the farm when Old Major died a few days after he spoke to the assembly. Napoleon succeeded in ousting Snowball. He became the absolute ruler. The animals adjusted with the human system of labor due to economic necessity, and learned that under the tyrannical Napoleon, their state of lives was as bad as their first when Mr. Jones was still in control.

The plot of the story can be attributed to different political ideologies, one of which was Plato's idea on tyranny. Plato's description of a tyrant is clearly manifested in the government ruled by Napoleon. First, a tyrant appears to be pleasant and gracious at the initial stages of his dominance to get the sympathy of the people. He shows himself as refined and congenial. Napoleon, the fierce-looking Berkshire boar, was primarily silent, allowing Snowball to express his aims and ideas on social and societal improvements. Nonetheless, as time went on, he was seen as always in disagreement with Snowball, and eventually made the latter as his rival. They often debated and this resulted to misunderstanding in almost about everything. The two boars divided the farm animals into two camps of supporters. Napoleon disapproved of Snowball's plan to build a windmill which would eliminate hard labor. He refuted everything and asserted that it would be better if they concentrated on increasing the food production and that harvest was more important than the building of a windmill.

Second, a tyrant is always at war with the good. He uses the art of making war or conflict upon his rivals. He destroys them either secretly or openly because he believes they stand in his way of power. In addition, he undermines associations and takes the lives of his friends and allies who contradict or oppose his ideas. Accordingly, Napoleon thought that Snowball was the obstacle in his path to power. On a debate, he called for ferocious dogs which he trained and drove Snowball off the farm. Napoleon succeeded in ousting his rival and became the single leader of the farm animals.

Third, a tyrant breeds mutual distrust. He destroys associations, isolates people, makes them strangers, and deprives them off of their arms. He humiliates his subjects and makes them incapable of action. Napoleon broke his association with Snowball by expelling him to be able to gain control of Animal Farm. Squealer, Napoleon's spokesperson, was the one who informed the people about Napoleon's ill-meaning plans. His orders were in a way sadistic. The farm animals were commanded to toil to and fro even if it was difficult for them. They worked like slaves and were led to believe that the fruits of their hard work would benefit themselves and not the human beings. Besides, Napoleon pronounced that genuine happiness was gained through hard work and earning frugally. The farm animals' ignorance became his advantage, and convinced them that their efforts would benefit them in the end, even if it exceeded their capabilities. The farm animals had no power to initiate and were utterly enslaved. No one even dared to speak his mind. They became submissive to Napoleon who broke their spirit and made them subservient and inferior. Clover, the cart-horse, being unable to read, was effortlessly deluded by Napoleon's commandments and obeyed false rules due to her illiteracy. It is one of the desires of a tyrant that his subjects should be incapable of action so that they will not realize his misdemeanor, for no one attempts what is impossible, and that they will not attempt to overthrow a tyrant, if they were powerless.

Fourth, a tyrant, once in power, isolates himself from the outside world. He provides for himself with sentinels. Frequently, when Napoleon was already reigning in Animal Farm, he rarely appeared in public. He spent most of his time in the farmhouse. He was protected by his fierce-looking dogs. He issued his orders through one of the other pigs, usually Squealer. Whenever Napoleon appeared in public, he was attended to by his entourage of vicious dogs. He had no regard for any public interest, except as conducive to his private ends. Napoleon aimed for pleasure and had all the vices. He also aimed for wealth for through this only can a tyrant maintain either his guards or his luxuries. Napoleon was engrossed in making pleasure for himself, and became desirous of riches. He was proud, yet his love for money cheated him when Frederick, the owner of Pinchfield Farm, paid him forged banknotes and even attacked his farm and destroyed the windmill.

Finally, a tyrant confuses his subjects by asking writers to compose poems and songs to pay tribute to his glory. This would conceal his transgressions, leading his subjects astray and making them think that their ruler is not ruthless at all. In the story, there were recitations of poems composed in Napoleon's honor. "Comrade Napoleon" was a poetry composed by Minimus, expressing the magnificent reign of Napoleon and the superb feeling towards him on the farm.

Thomas Aquinas's idea on the dangers of tyranny was expressed in the story. According to Aquinas, tyranny is the worst kind of government for the tyrant brings the community to peril through his unjust rule. The government of Napoleon was, indeed, in the form of tyranny. Napoleon paid no heed to the common good and sought his own private good. Yet, Aquinas declared that if the dictatorship is slight, it would be more advisable to tolerate it than for citizens to involve themselves into rebellion against the despot. None of the farm animals dared to go against Napoleon because they were terrified and ignorant, and they thought that if those who act against him were unable to triumph, they would be oppressed and the cruelty that they were experiencing would be graver.

Political ideologies by Niccolo Machiavelli are also apparent in Animal Farm. According to Machiavelli's The Prince, in order to be complied with by his subjects, a ruler, which he specified as a prince, should not deviate from what is good, but be able to do evil if necessary in order to maintain authority. Napoleon even managed to kill his subjects who he considered as supporters of Squealer. Some of them committed suicide, yet the farm animals did not dare to rebel against Napoleon's private actions for some were ignorant and others emphasized that Napoleon could do no wrong, and was thus, always right, which therefore helped him retain his power.

Machiavelli stated that it is very profitable for a prince to give some outstanding example of his greatness in the internal administration. He must endeavor in every action to obtain fame and to appear outstanding for being good and excellent. Nothing would cause a leader to be so much esteemed as having great projects and giving proof of prowess. Napoleon demonstrated himself as a brilliant administrator by wearing medals, most of which were awarded to him by himself. He was attended by his retinue of huge, vicious canines who frisked around him, growling and scaring the farm animals. Napoleon was referred in formal style as "Our Leader, Comrade Napoleon" and other dignifying, invented titles. His alter ego, Squealer, would talk in a speech, with tears rolling down his cheeks, about Napoleon's wisdom, the righteousness of the latter's heart, and the deep love that he showed to all the farm animals, even to those who they thought were discontented and still existed in ignorance and slavery. Every successful achievement and stroke of good fortune were credited to Napoleon. Farm animals were even heard as giving respects and praises to Napoleon, saying that they had profited from his administration.

Napoleon was able to contrive great things. He kept the farm animals' minds uncertain, astonished and gripped in watching the results. These actions have arisen one out of the other, and left them no time to settle down and act against him. Napoleon fraudulently ordered the farm animals to work hard in order to attain their aspirations for a better life. They were immersed with hard labor, believing that its results would be to their advantage. Boxer, who was one of the most loyal workers on the farm, accepted and performed everything that his authorities commanded, despite his poor health, the long hours of labor and insufficient ration of food which were hard to shoulder. Furthermore, the desired ends were not directed to those who exerted efforts but to Napoleon. Machiavelli's notion of a wise prince is one who seeks means by which his subjects will always and in every possible condition of things, have a need for government and that they would always be faithful and obedient to him. He is, indeed, powerful and courageous who will always overcome difficulties by raising the hopes of his subjects, advising them that the evils will not last long, and stressing the greatness of bringing the enemy to justice. Animal Farm showed Napoleon ordering the rebuilding of the windmill, underlining that Snowball, his prime suspect, should be taught a lesson and prove to him that he cannot undo their hard work easily. Thus, the farm animals, though some were in disbelief that Snowball could do such action, toiled hard and grew exhausted. Nevertheless, their hearts blindly continued to burst with pride when their masterpiece was done. It was put forth that alls well that ends well, that the discouragements and iron labor had been overcome.

In the end, the farm animals remained hopeful for a society free from hunger and the whip, all equal, each working according to his capacity. They seemed contented to work like slaves towards the objectives of their tyrannical ruler who eventually aspired equality with humans. The farm animals were satisfied with the fact that the fruits of their labor benefited their fellow animals and not the human beings which they initially considered as the tyrant.

Tyranny would have not continued to control the Manor Farm if the farm animals would have been wise enough to choose their new leader after Old Major died. Since during his reign, they have practiced democracy under the governance of Mr. Jones, the farm animals should have continued their democratic practice, especially in choosing or the election of a new leader. Instead, they just accepted the new government under Snowball and Napoleon, and were made to believe that pigs were clever enough to rule. Napoleon, who was initially a wolf in a sheep's clothing, would not have taken over if the farm animals would have been mindful and sensible enough to elect a governor who is unlikely to become a tyrant. The farm animals should not have shown the white feather and become submissive. The new administration must have been established that the possibility to tyrannize was eliminated. Their new leader's power should have been regulated and that the citizens should have strived to maintain their right to be heard. The power of the single ruler should have been moderated if their government had other branches that would make stipulations if ever their new leader would lead to tyranny. There should have been a marshal to monitor the ruler's conduct. The farm animals, moreover, should have been informed about their ruler's undertakings and asked if they are in agreement or contrary to his plans.

A democratic set-up could have managed the farm animals' situation well. The modern democratic administration employs the success of the ruler is merely not for himself, but also for the majority. The rule of the majority of the farm animals should have prevailed. They should not have left themselves duped by their ruler's wrongdoings and fought for their right to swear in a capable, transparent, and humane administrator. Snowball manifested an optimistic and skillful leader. The farm animals, knowing that he was competent enough to lead their society into the majority's ideal form, should have fought for his rule right at the start, albeit massive destruction would have happened because if they really wanted a new society under a fair government, they would not have left themselves suffering and badly yearning for better conditions, because by hook or by crook, they would have fought for their rights and aspirations.

About the Author :

George Orwell was born in 1903 in India. A year later, his mother Ida Blair moved back to England with her children. Orwell initially studied at a Catholic Convent, but later moved to a boarding school, Cyprian s School. He went to Eton on a scholarship, but did not complete his studies. He joined the Imperial Police and was posted in Burma. He later returned to Europe, and lived in Paris and London, before finally settling down in England. His book, Down and Out in Paris and London, was published under the pen name of George Orwell. In 1945 came Animal Farm, which made him world famous, and his reputation as a great writer was sealed with the publication of Nineteen Eighty Four in 1949, shortly before his death. --This text refers to an out of print or unavailable edition of this title.

The Man Who Killed Kennedy: The Case Against Lyndon Baines Johnson

Hardcover: 424 pages
Publisher: Skyhorse Publishing; 1 edition (November 6, 2013)
Language: English
ISBN-10: 1626363137
ISBN-13: 978-1626363137
Product Dimensions: 6 x 6 x 9 inches

The author of this dark chronicle Roger Stone is a political strategist who had a key role in the elections of Ronald Regan, Richard Nixon, and George H.W. Bush. He also is known for his personal style writing a column for the Huffington Post and his annual "Ten Best & Worst Dressed Men & Women in the World."

How & Why

Stone gets into the why and how of the JFK assassination and picks apart the other conspiracy theories to the bone. The other theories had no motive but LBJ had the biggest motive of all to become President and help his supporters in Bell helicopter get rich.

Lays Out the Case

LBJ not only cowboy-ed his way into the White House he was also avoiding up close and personal destruction at the hands of John and Bobby Kennedy. Stone points the finger at LBJ who scattered eight other murders to cover up his role along the way to seize power in a coup de tat unprecedented in modern times.

Richard Nixon Knew

Nixon was absolutely convinced that LBJ was the mastermind in this bloody episode of American history because he recognized Jack Ruby as LBJ's hired help committing yet another Johnson directed murder when Oswald was gunned down.

Stone Indicts

Roger Stone indicts J. Edgar Hoover, Gerald Ford, Arlen Specter for their roles in the cover-up. He also goes into great detail about why George H.W. Bush lied about being in the CIA and said he was not in Dallas the day JFK was blown away when the truth is he was!

Many Avenues Investigated

Roger Stone's excellent insight into LBJ the man, why he was called Landslide Lyndon, and his fixated hate for Bobby & Jack Kennedy is beyond reproach. He delves into the Kennedy curse, their hated enemy LBJ, the role J. Edgar Hoover plays in the rubber stamped cover-up, and the road to Watergate who was involved and why. He even fingers the man who had the kill shot at point blank range with an American made dumb dumb bullet.

Conclusion

This detailed book into who knew what when, the people involved in the bloody coup, and why LBJ had the most to gain if Kennedy was killed points the finger at the CIA, the Chicago & Dixie mob, LBJ's henchmen, and J. Edgar Hoover big-time. Stone weaves a pattern of betrayal and deceit among the elite bringing us to the realization the powers that be will do anything to advance their agenda at any cost the nation be damned. Stone does a good job at showing who the linchpin is in this massive betrayal of presidential trust and what they stood to gain.

I believe the cover-up continued for these many years because the elite did not want the public to know it was a Democrat that murdered another Democrat just to advance his own agenda. This is sad but very revealing about human nature, why people do what they do to gain fame and power at any cost. Stone puts the hammer down leaving nothing to the imagination. This is an insight into the war mongers that existed then and now in the military industrial complex that will not be happy until the whole world worships at its feet.

About the Author :

  • Roger Stone is the author of the New York Times bestseller The Man Who Killed Kennedy: The Case Against LBJ. He is a legendary political operative who served as a senior campaign aide to Richard Nixon, Ronald Reagan, and Senator Bob Dole. Stone would parlay being the youngest staff member of the Committee to Re-Elect the President in 1972 into being a conduit of secret memos from Ex-President Nixon to President Ronald Reagan throughout the 80s. A veteran of eight national presidential campaigns, Stone would spend hours talking politics with Nixon as confidant and adviser in his post-presidential years. Stone is known for his hardball tactics, deep opposition research, biting candor, and love of English custom tailoring. Stone serves as mens fashion correspondent for the Daily Caller.
  • Mike Colapietro is an investigative journalist and researcher who received his bachelors from Eastern Connecticut State and is studying for Masters from the University of South Florida. His work has appeared in the Tampa Bay Times, Smoke Magazine, and Yahoo.com.

Kamis, 05 Desember 2013

Judul Buku : Lahir dari Rahim
Penulis : P Mutiara Andalas SJ
Penerbit : Kanisius Yogyakarta
Cetakan : I/2009
Tebal Buku : 320 Halaman

Membahas permasalahan gender adalah menganalisis hubungan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosialnya. Bukan permasalahan kodrat laki-laki yang memproduksi sperma dan perempuan melahirkan. Sebagai manusia keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan perannya sebagai makhluk soaial. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah struktur soaial yang timpang, bias gender yang menyebar luas dan mempengaruhi pola pikir, tindakan dan bentuk kehidupan sosial di negeri ini.

Menjadi perempuan atau laki-laki merupakan bentuk yang diciptakan oleh struktur masyarakat. Hal ini tidaklah paten, melainkan dapat diubah apabila didalamnya

terdapat ketidak adilan bagi salah satu gender. Salah satu hasil dari ciptaan struktur soaial yang memasung perempuan adalah stereotype yang menindas dan menimbulkan ketidak adilan bagi perempuan dalam kehidupan sosial. Akan tetapi sering terabaikan oleh banyak kalangan karena sudah diangap menjadi sebuah hal yang lazim oleh masyarakat.

Akibat dari penciptaan stereotype ini muncul penindasan. Penindasan pada perempuan ini terjadi secara berkelanjutan tanpa adanya kesadaran bahwa kegiatan-kegiatan kekerasan simbolik ini sebagai sebuah ketidak adilan. Ironisnya, hal ini seringkali dianggap sebagai kelaziman.

Apakah karya P Mutiara Andalas SJ menghadapi kondisi perempuan seperti wacana di atas? Andalas adalah seorang teolog humania dan seorang laki-laki profemnis. Melalui karyanya ini ia membidik wacana perempuan Asia melalui pendekatan teolog profeminis.

Ajakan Andalas melalui buku ini merupakan upaya rekonstruksi stereotype perempuan dalam struktur sosial secara kolektif. Para tokoh intelektual, agama, pendidikan, politik dan semua kalangan masyarakat untuk menyadari gejala-gejala ketidak adilan di sekitarnya dan melakukan pembebasan dengan bertindak dan berpikir secara kritis dan peka.

Karya ini ditlis sangat akademis serta menggunakan gaya bahasa metafor dan pemilihan bahasa yang netral dan lembut tanpa harus menyentuh bias gender. Disinilah kekuatan buku ini. Sebab menurut Mary Joe Frug, bahasa merupakan kekuatan yang membentuk realita dan realitas gender merupakan system of meaning. Susunan bahasa yang dipilih untuk menggambarkan suatu makna menentukan bagaimana pengetahuan atau common opinion terbentuk. Makna gender juga dipertaruhkan jika dalam penggunaan bahasa jusru menggambarkan adanya ketidak seimbangan komunikasi soaial antara wanita dan pria.

Sebuah karya yang layak untuk mendapatkan perhatian dunia akademik, teologis dan sosial sebagai referensi bacaan pengembangan pengetahuan. Karya ini membuka mata publik tentang sesuatu yang terlipat, sesuatu yang tersembunyi. Padahal ia sebenarnya tampak jelas dalam ruang publik, dengan disertai berbagai studi kasus dan kisah nyata ketertindasan kaum perempuan dalam dunia sosialnya. Sebuah karya hasil dari kecerdasan intelektual dan keimanan yang disajikan dalam bahasa yang lembut dan memberikan ruang kebebasan berpikir bagi para pembaca.

(Direferensi oleh : Abda'iyah Alhadi, Pascasarjana Fakultas Filsafat UGM)

Rabu, 13 Januari 2010

**Menguak Cara Pikir Nabi

Judul : Berpikir Seperti Nabi
Penulis : Fauz Noor
Cetakan : I, 2009
Penerbit : Pustaka Sastra
Tebal : xxiv + 508 halaman



Judul buku “Berpikr Seperti Nabi” sangat menggugah pikiran alam bawah sadar kita. Pasalnya, pertanyaan apakah nabi selama ini berpikir atau tidak masih juga belum dapat dituntaskan. Terdapat keterangan bahwa seluruh perkataan nabi pada dasarnya hanyalah firman Allah. Semantara lisan nabi hanyalah perantara.

Berbagai perbedaan pendapat ada di dalam lingkungan kita. Hal itu bukanlah kenafian dan tidak boleh mengklaim salah sat pihak salah secara mutlak. Masing-masing dari pendapat mempunyai dasar yang kuat. Bahkan semenjak awal kita juga sudah mendapatkan contoh bagaimana para ulama mazhab berbeda pendapat. Mazhab besar Mu’tazilah dan Asy’ariyah saling berbeda pendapat tentang zat Allah SWT.

Mazhab Mu’tazilah menuturkan bahwa Allah tidaklah mempunyai sifat. Alasan yang dikemukakan adalah Kholik (baca : Allah) tidaklah dapat disamakan dengan makhluk. Dalam hal ini makhluk mempunyai sifat, maka agar berbeda, Kholik tidak mempunyai sifat. Pendapat ini sangatlah kuat dasarnya dan tidaklah pantas seseorang menyalahkan dengan serta-merta. Sementara mazhab Asy’ariyah mengemukakan bahwa zat Allah mempunyai sifat. Alasan yang dikemukakan adalah ketika zat melakukan apa-apa berarti mempunyai sifat. Maka dari sinilah dikarenakan zat Allah melakukan sesuatu maka zat Allah dikatakan mempunyai sifat. Pendapat inipun juga tidak boleh dibantah tanpa alasan yang jelas.

Dalam konteks kekinian terdapat juga golongan muslimin yang saling bertolak belakang. Di satu sisi terdapat golongan yang dapat dikata tidak berani berpikir tentang agama dan juga nabi. Apapun yang dilakukan nabi, seperti itulah yang hendaknya dilakukan. Cara berpakaian nabi, cara berbudaya nabi dan sejenisnya menjadi pegangan golongan ini. Sementara di lain sisi terdapat golongan yang selalu berpikir dan kebablasan sehingga terkesan asal-asalan. Golongan ini lebih banyak mengambil inti dari apa yang diajarkan rasul an direlevansikan terhadap zaman dan tempo agama Islam.

Melalui buku inilah Fauz Noor seakan-akan mengajukan gagasannya, yang jika mungkin suatu saat ada sebuah pertanyaan diajukan kepada kedua kelompok di atas yang saling kontra, maka dengan mengetahui cara pikir nabi, seseorang akan dapat memperoleh jawaban yang berbeda dari keduanya. Terlebih dari itu buku ini juga akan menjawab sekian persoalan terkait dengan pertanyaan nabi berpikir atau tidak.

(Diresensi oleh : Anton Prasetyo, Santri Nurul Ummah, penggiat Komunitas Sastra Matapena LKIS Yogyakarta)

Selasa, 12 Januari 2010

** NU Menerabas Tradisionalitas?

Judul : Pergolakan di Jantung Tradisi
Penulis : As’ad Said Ali
Pengantar : KH Sahal Mahfudz
Penerbit : LP3ES, September 2008
Halaman : 263 halaman


Sebagai organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Tanah Air bahkan di dunia. Nahdlatul Ulama (NU) sejak lama kerap menyedot perhatian. Apalagi dalam perjalanan panjangnya – dinamika ormas Islam berdiri sejak tahun 1926 ini belakangan sudah bergerak sedemikian rupa menuju progresivitas pemikiran. Bahkan, ditengarai pergolakan pemikiran pada tubuh NU berkembang menerabas tradisionalitas itu sendiri. Konflik internal antara golongan tua yang gigih mempertahankan tradisi dan kalangan muda yang menghendaki perubahan pun tak bisa dihindari. Lazimnya proses perubahan, bertolak dari berbagai gagasan pembaruan – kalangan muda dengan wataknya yang progresif dan kritis mempertanyakan tradisi. Dan kaum tua yang menolak eforia perubahan pun berdalil perubahan akan mengancam identitas tradisi.

Kehadiran figur Abdurrahman Wahid yang sejak tahun 80-an hingga menjelang akhir hayatnya 30 Desember 2009 lalu, menggelindingkan bola ”pencerahan” diyakini memberikan pengaruh dahsyat bagi warga NU. Belakangan, muncul anak-anak muda NU seperti Ulil Abrahar Abdalla yang pemikirannya seakan lepas landas dari basis tradisionalitas yang masih digenggam oleh warga NU trutama kalangan ulama sepuh.

”Beberapa perubahan besar memang sudah dan sedang terjadi di dalam lingkungan warga nahdliyin,” tulis As’ad Said Ali dalam bukunya berjudul lengkap : ”Pergolakan di Jantung Tradisi, NU yang Saya Amati.” Perubahan itu digerakkan oleh kalangan muda yang berpendidikan ganda : pesantren dan pendidikan modern. Mereka seakan menjadi counterpart kalangan ulama tradisional dalam memodernisasi NU,” tambah warga tulen NU asal Kudus Jateng, jebolan Pondok Pesantren Krapyak asuhan KH Ali Ma’shum yang kini menjabat Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini.

NU dan perubahan memang senantiasa menarik untuk diamati – terutama perubahan yang berkorelasi dengan sejarah politik kekuasaan. Apalagi, NU senantiasa menghadirkan dinamika perubahan yang dikehendaki oleh konteks ruang dan waktu serta kelenturan para nahdliyin dalam menerjemahkan tradisi. Hal inilah yang tak luput dari pengamatan As’ad Said Ali guna menggiring pembaca buku untuk memasuki pergolakan pemikiran yang terjadi di tengah berbagai isu kontemporer. Terutama isu liberalisasi pemikiran melanda kalangan muda yang cenderung konfrontatif terhadap para ulama sepuh yang setia menjaga kemapanan tradisi NU.

Secara umum buku ini menyoroti dinamika perubahan dalam NU sejak periode 1980-an hingga memunculkan sebutan NU Struktural dan NU Kultural seperti sekarang. Meski masih menyinggung dinamika perubahan politik NU semasa Orde Baru, namun pengamatan penulis terkonsentrasi pada fenomena pergolakan di tubuh NU pasca Reformasi 1998. Dalam pergolakan inilah tampak bagaimana tradisionalisme keagamaan dan otoritas kaum ulama mendapat serbuan bertubi-tubi dari kalangan muda NU.

Buku yang terdiri dari tujuh bab ini juga menyimpan pengamatan menarik ihwal neoliberalisme (Neolib) dan korelasinya dengan pembentukan berbagai NGO demi mengusung kepentingan neolib. Apakah berbagai NGO di tubuh NU hanyalah perpanjangan tangan dari negara atau lembaga demi kepentingan neolib? Lewat data yang komprehensif ihwal hubungan NU dengan berbagai NGO, penulis buku mengarahkan pengamatannya pada wilayah kemandirian perekonomian.

(Diresensi oleh : Chaidir)

Rabu, 06 Januari 2010

** Membongkar Pseudo-Kelaziman Perempuan

Judul Buku : Lahir dari Rahim
Penulis : P Mutiara Andalas SJ
Penerbit : Kanisius Yogyakarta
Cetakan : I/2009
Tebal Buku : 320 Halaman

Membahas permasalahan gender adalah menganalisis hubungan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosialnya. Bukan permasalahan kodrat laki-laki yang memproduksi sperma dan perempuan melahirkan. Sebagai manusia keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan perannya sebagai makhluk soaial. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah struktur soaial yang timpang, bias gender yang menyebar luas dan mempengaruhi pola pikir, tindakan dan bentuk kehidupan sosial di negeri ini.

Menjadi perempuan atau laki-laki merupakan bentuk yang diciptakan oleh struktur masyarakat. Hal ini tidaklah paten, melainkan dapat diubah apabila didalamnya terdapat ketidak adilan bagi salah satu gender. Salah satu hasil dari ciptaan struktur soaial yang memasung perempuan adalah stereotype yang menindas dan menimbulkan ketidak adilan bagi perempuan dalam kehidupan sosial. Akan tetapi sering terabaikan oleh banyak kalangan karena sudah diangap menjadi sebuah hal yang lazim oleh masyarakat.

Akibat dari penciptaan stereotype ini muncul penindasan. Penindasan pada perempuan ini terjadi secara berkelanjutan tanpa adanya kesadaran bahwa kegiatan-kegiatan kekerasan simbolik ini sebagai sebuah ketidak adilan. Ironisnya, hal ini seringkali dianggap sebagai kelaziman.

Apakah karya P Mutiara Andalas SJ menghadapi kondisi perempuan seperti wacana di atas? Andalas adalah seorang teolog humania dan seorang laki-laki profemnis. Melalui karyanya ini ia membidik wacana perempuan Asia melalui pendekatan teolog profeminis.

Ajakan Andalas melalui buku ini merupakan upaya rekonstruksi stereotype perempuan dalam struktur sosial secara kolektif. Para tokoh intelektual, agama, pendidikan, politik dan semua kalangan masyarakat untuk menyadari gejala-gejala ketidak adilan di sekitarnya dan melakukan pembebasan dengan bertindak dan berpikir secara kritis dan peka.

Karya ini ditlis sangat akademis serta menggunakan gaya bahasa metafor dan pemilihan bahasa yang netral dan lembut tanpa harus menyentuh bias gender. Disinilah kekuatan buku ini. Sebab menurut Mary Joe Frug, bahasa merupakan kekuatan yang membentuk realita dan realitas gender merupakan system of meaning. Susunan bahasa yang dipilih untuk menggambarkan suatu makna menentukan bagaimana pengetahuan atau common opinion terbentuk. Makna gender juga dipertaruhkan jika dalam penggunaan bahasa jusru menggambarkan adanya ketidak seimbangan komunikasi soaial antara wanita dan pria.

Sebuah karya yang layak untuk mendapatkan perhatian dunia akademik, teologis dan sosial sebagai referensi bacaan pengembangan pengetahuan. Karya ini membuka mata publik tentang sesuatu yang terlipat, sesuatu yang tersembunyi. Padahal ia sebenarnya tampak jelas dalam ruang publik, dengan disertai berbagai studi kasus dan kisah nyata ketertindasan kaum perempuan dalam dunia sosialnya. Sebuah karya hasil dari kecerdasan intelektual dan keimanan yang disajikan dalam bahasa yang lembut dan memberikan ruang kebebasan berpikir bagi para pembaca.

(Direferensi oleh : Abda'iyah Alhadi, Pascasarjana Fakultas Filsafat UGM)

** Merenungkan Manusia

Judul Buku : Manusia, Teka-teki yang Mencari Solusi
(Hommage untuk Prof Dr M Sastrapratedja)
Editor : A Setyo Wibowo
Penerbit : Kanisius Yogyakarta
Terbit : 2009
Tebal : 308 Halaman

Perbincangan tentang manusia sungguh tidak ada habisnya. Ia akan selalu ada selama manusia ada. Manusia akan selalu bertanya tentang dirinya. Apa itu manusia? Siapa manusia itu? Dan mengapa ada manusia?

Keyakinan tentang manusia sebagai makhlukyang senantiasa mempertanyakan dirinya, yang selalu sedang menjadi, dikatakan dengan cara lain oleh Michael Sastrapratedja sebagai makhluk sejarah. Manusia bukanlah sekedar datum, ia adalah makhluk bersejarah yang lewat relasinya dengan segala macam lingkungannya berusaha, tanpa pernah henti membentuk dirinya sendiri.

Menyatakan manusia sebagai makhluk menyejarah artinya membuka diri pada ragam ide tentang manusia yang dalam seluruh kajian filsafat senantiasa terus berubah. Pada perkembangannya yang kontemporer, pasca modernisme justru membuat kita meragukan ide tentang manusia itu sendiri. Namun bukan berarti klaim besar pascamodern itu mengakhiri pertanyaan manusia berakhir tentang dirinya sendiri. Sastrapratedja justru yakin bahwa sejauh manusia masih mempertanyakan apa artinya menjadi manusia agar layak disebut manusia, maka humanism sebagai pandangan hidup dan sebagai filsafat masih relevan. (halaman 5-6).

Buku ini berisi 13 esai yang ditulis secara istimewa oleh para akademisi sebagai ucapan terima kasih kepada M. Sastrapratedja. Ia dikenal sebagai "penjaga" kawasan akademik dan intelektual yang disebut filsafat manusia atau antropologi filosofis. Itulah pintu gerbang untuk memahami siapa itu manusia dan mengapa ia tetap menjadi teka-teki bahkan bagi dirinya sendiri.

Buku ini dihadiahkan sebagai undangan kepada publik untuk merawat pencarian jawaban atas enigma yang bernama "manusia". Membaca buku ini seperti meneliti diri sendiri. mencari jawaban atas manusia yang dipertanyakan sendiri oleh "manusia".

Buku ini tidak hanya berbicara tentang mantan Rektor Universitas Sanata Dharma dan Direktur Program Pascasarjana STF Driyakara Jakarta saja, namun berbicara mengenaihakikat diri manusia sebagai makhluk soaial yang terus berproses. Lebih dari itu, buku ini memberikan garis besar jawaban-jawaban atas pencarian manusia dari kacamata akademik.

Walaupun ditulis ole akademisi dan pakar filsafat, namun buku ini mudah dibaca dan dipahami. Bku ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang mengaku dirinya manusia.

(Diresensi oleh : Benni Setiawan, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)